Persib Bandung mulai berbenah menghadapi musim kompetisi baru ISL yang rencananya akan diselenggarakan bulan November mendatang. Ya, walaupun terbilang “ilegal”, namun kompetisi yang tidak diakui PSSI ini terhitung paling siap dan berpengalaman menyelenggarakan kompetisi liga di tanah air.
Seperti biasanya, setiap musim baru akan bergulir, bermacam kontroversi dan kejutan kerap terjadi di tubuh sang pangeran biru. Mulai dari pemilihan pelatih, pemain baru yang akan direkrut dan dilepas, maupun yang “terlucu” berupa pembentukan PT PERSIB 1933. Khusus yang terakhir, saya katakan “terlucu” karena perusahaan bentukan orang orang yang mengaku cinta Persib ini, dengan tiba tiba muncul dan meminta “jatah” 30 persen saham Persib saat ini.
Mengatasnamakan rasa cinta kepada Persib, dan hak mereka sebagai kumpulan anggota klub binaan Persib, segelintir orang ini “melucu” dengan menuntut hak yang tidak berbalas kewajiban. Bagaimana tidak, ketika Persib lepas dari APBD dan butuh dana segar, orang orang yang mencintai Persib ini tidak berkoar segencar saat ini mereka meminta saham Persib.
Ah tapi lupakan itu semua, saya yakin jika mereka mencintai Persib maka mereka tak akan merusak konsentrasi Persib di awal persiapannya. Justru kontroversi yang lebih menyita perhatian saya ada pada proses perekrutan pemain baru sang pangeran biru. Beberapa tahun terakhir, klub juara Liga Indonesia pertama ini sedang gemar mengoleksi pemain bintang dengan nilai kontrak yang besar. Pun musim ini, gembar gembor pemain bintang yang katanya sudah deal bergabung dengan Persib, sudah tersebar ke telinga para bobotoh.
Nama Asri Akbar menjadi nama pertama yang ramai dibincangkan para bobotoh, gelandang tengah yang musim lalu bergabung bersama Persiba Balikapapan ini tampaknya memikat manajemen Persib saat dua gol nya membuat Persib menanggung malu di kandang. Diikuti dengan eksodus bintang nasional yang memperkuat juara ISL musim lalu, dan para pemain asing yang namanya sudah tak asing lagi.
Oh ya, playmaker tim nasional yang akan bergabung bersama Persib kelak, konon telah mencapai kesepakatan pada saat Timnas melawan Valencia di Jakarta. Hal ini tentu saja memunculkan satu pertanyaan besar di kalangan bobotoh “loh pelatihnya saja baru terpilih kemarin kemarin, tapi kok sudah ada deal dengan pemain jauh jauh hari ya”. Ya mudah mudahan saja hal ini tidak benar adanya.
Yang lebih miris saat ini adalah, para pemain yang ingin bergabung bersama Persib saat ini bukanlah pemain yang mencintai Persib karena kebesaran namanya, atau fanatisme bobotohnya. Kedua hal itu kerap menjadi “alibi” dibalik Kontrak menggiurkan dan pembayaran gaji yang lancar. Secara, musim kemarin Persib adalah salah satu dari sedikit klub yang tidak bermasalah dengan keuangan.
Saat banyak pemain bintang berhasrat hijrah ke Persib, justru para putra daerah bertalenta besar ramai ramai eksodus ke klub lain. Dengan alasan untuk mendapatkan jam terbang yang tinggi, mereka hijrah ke klub klub lain. Apa benar alasannya jam terbang? Mengingat Budiawan cukup sering turun pada musim kemarin. Atau kontrak yang tidak sesuai? Sedangkan fakta berbicara bahwa Persib adalah tim dengan kesehatan keuangan nomor satu di Indonesia. Atau jangan jangan ada alasan rahasia hengkangnya mereka, seperti yang terjadi ketika secara mengejutkan Eka Ramdani memilih meninggalkan Persib?
Saya bukan tidak setuju para pemain bintang datang ke Persib, bukan pula marah karena para putra daerah memilih klub lain. Saya yakin manajemen mengusahakan segala yang terbaik demi memuaskan hasrat bobotoh yang haus prestasi dan gelar selama belasan tahun. Pertanyaannya, apakah profesionalitas para pemain baru yang akan bergabung sebanding dengan nilai kontraknya?, atau adakah loyalitas, totalitas dan rasa cinta mereka terhadap Persib seperti para putra daerah?. Dan mungkinkah mereka akan mati matian membela Persib seperti Hariono?
Saat ini sepak bola modern memang menjadi panutan semua klub di dunia, putra daerah tidak wajib membela klub dari daerahnya sendiri. Asalkan prestasi bagus, siapapun pemainnya tidak masalah. Hanya saja, saya merindukan pemain dengan selebrasi mencium logo Persib di dada kiri setelah mencetak gol. Atau kemudian selebrasi untuk bobotoh yang telah mendukung mereka. Setahu saya musim kemarin hanya Noh Alamsah yang sering tertangkap kamera melakukan hal ini.
Menurut saya Persib jaman dulu tidak punya bintang besar, hanya saja para pemain Persib saat itu memang mencintai Persib dan main dengan sepenuh hati untuk Persib. Dan akhirnya hal itulah yang menghadirkan gelar juara dan menjadikan mereka bintang dengan sendirinya. Dengan loyalitas, totalitas, dan cinta untuk Persib.
Ya, mudah mudahan saja prestasi Persib musim ini jauh lebih baik. Apapun keputusan yang diambil manajemen, kita sebagai bobotoh wajib mendukung sepenuhnya demi kemajuan Persib itu sendiri. Mudah mudahan tidak ada lagi salah menyalahkan dan sikap mengelak apabila prestasi Persib nanti belum atau tidak sesuai dengan ekspektasi bobotoh (amit amit). Karena kami para bobotoh, haus akan prestasi dan rindu gelar juara. sekali lagi siapapun pemain Persib nanti, kami titipkan amanah dan harga diri kami di pundak kalian, untuk mengembalikan nama besar dan sima Persib di mata Indonesia, Asia, dan Dunia. Karena kami tak akan pernah lelah mendukung dan menunggu saat itu tiba. (ghs)
Sumber : simamaung.com






0 komentar:
Posting Komentar